Select Page

Akademi Militer Jumat (6/04/20). Pengarahan Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman kepada Taruna Tingkat IV yang sebentar lagi akan di lantik sebagai Perwira TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Dua yang akan mengisi jabatan Perwira Pertama di Seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Lily Rochli Akmil dan dihadiri oleh Wagub Akmil Brigjen TNI Wirana Prasetya Budi S.E. di dampingi para pejabat Distribusi serta para Perwira dan Pengasuh dan para Taruna/Taruni Tk. IV/Sermatutar berjumlah: 254.
Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman menceritakan pengalaman kepada Taruna/Taruni Tk. IV/Sermatutar tentang Sosok Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang di lahirkan di Bandung, 16 Nov 1965 dari Bapak Nasuha dan ibu Nasyati, menyelesaikan sekolah dari SD sampai SMA di Kota Bandung (1972-1985). Lulus SMA Tahun 1985 kemudian mendaftar Akabri Darat. Melaksanakan Pendidikan Akmil, pada Tahun 1988 lulus Akmil dengan menyandang pangkat Letnan dua (1985-1988). “Ada Tantangan yang harus di hadapi. Ada perjuangan yang harus di menangkan. Itulah Hidup”.
Pada tahun 1981 (kelas 2 SMP), ayahhanda meninggal dunia. Untuk membantu Perekonomian keluarga, akhirnya Ikut mencari nafkah sbg loper koran sebelum sekolah
Beliau tipe pekerja keras. Pada tahun 1981 (kelas 2 SMP), Pada usia 11 tahun, sudah ditinggal ayahnya karena meninggal dunia yang bekerja sebagai PNS di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi. Hal itu membuat Dudung kecil sudah membulatkan tekad menjadi tentara. Profesi yang selalu memanggil karena ia hidup dan tinggal di barak, juga profesi yang selalu diniatkan sebagai caranya meringankan ibunya mencari uang untuk pendidikan ke delapan saudaranya.
Segala pekerjaan pernah dilakukannya untuk membantu Ibundanya. Menjual kue tampah di perempatan Jalan Belitung di sekitar Kodam III/Siliwangi, sampai jadi pengantar (loper) koran ketika duduk di bangku SMAN 9 Bandung.
Dalam usia begitu belia, satu yang berbeda dengan anak-anak remaja seusianya, sadar hidup itu juga berisi kerja keras, tekad dan upaya yang tanggap untuk mengejar mimpi.
Apa yang tampak sebagai keberhasilan saat ini, sebetulnya hasil jatuh-bangun yang lama dan dalam, yang orang lain tak pernah melihatnya. Pada sedikit orang, maka kepedihan hidupnya di masa kecil dan kepatuhan serta cintanya kepada kedua orang tua, justru menjadi pendorong semangatnya sampai ke titik tertinggi.
Mayjen TNI Dudung Abdurachman menandaskan, “Saya dibentuk oleh kepedihan hidup, doa yang tak putus dari Ibunda juga almarhum Ayah, didikan orangtua serta keluarga yang penuh kasih sayang dan tempaan keras Akademi Militer-Lembah Tidar”.
Loper Koran jadi Jenderal, Seni Kepemimpinan Militer Indonesia adalah jejak pengalaman hidup dan gaya memimpin Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Yang lulusan Lembah Tidar tahun 1988, 15 tahun setelah Pak SBY.
Satu ciri khas Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman, yang juga ditandai oleh semua mantan anak buahnya, ia pemberani yang sabar, cinta anak buah, tetapi tegas tanpa harus marah-marah. Sering dalam kisahnya di berbagai medan tugas dengan kontak senjata, ia berada di garis depan.
AUTENTIKASI
PENHUMAS AKMIL