Select Page

GUBERNUR BERIKAN SANTI AJI KEPADA TARUNA/TARUNI AKMIL

Akmil – Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman memberikan  pembekalan kepada seluruh Taruna Akmil yang tidak berdinas khusus jumlah Taruna yang hadir 897, tingkat I Yon Remaja 256, tingkat II Yon Dewasa 179, tingkat III Yon Madya 214, tingkat IV Yon wreda  248 yang di laksanakan di Gedung Moch. Lilly Rochli  Akmil. Kegiatan Pembekalan tersebut para pejabat Distribusi A dan B Akmil, para pengasuh Taruna. Pelaksanaan pembekalan ini berlangsung mulai 09.00 s.d. 11.00 WIB pada hari Senin tanggal 20 Mei 2019
 
Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman memberikan pengarahannya kepada Taruna/Taruni Akmil, dengan materi  11 Azas Kepemimpinan, 11 Prinsip Prinsip Kepemimpinan dan 16 Sifat Kepemimpinan, untuk dijadikan bekal pada saat menjadi Perwira TNI AD kelak. , Senin (20/05/2019).
 
Dalam Kesempatan itu, Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman, juga memberikan Penekanan Taruna/Taruni agar berani bertanggung jawab dalam setiap perilaku untuk tujuan kedinasan dan arah untuk tujuan kebaikan, dengan tetap memegang santi aji tersebut.
Di sela-sela pengarahan dan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para Taruna/Taruni, Gubernur Akademi Militer memanggil perwakilan 2 Taruna/Taruni untuk mengucapkan 11 azas kepemimpinan dan   mengucapkan 16 Sifat Kepemimpinan) serta  1 Taruni untuk mengucapkan 11 prinsip Kepemimpinan. Dari ketiga Taruna/Taruni yang di minta tampil kedepan untuk mengucapkan tiga santi aji tersebut, ketiganya dapat mengucapkan dengan lancar dan benar.
Adapun isi dari materi atau santi aji yang diberikan oleh Gubenur Akmil kepada Taruna/Taruni Tingkat II Akmil adalah sebagai berikut :
11 Azas Kepemimpinan :
Taqwa, Ing ngarsa sung tulada (menjadi suri tauladan), Ing madya mangun karsa (berada di tengah anak buah), Tut wuri handayani (m’beri dorongan dari blk)
Waspada purba wisesa (waspada, berani mengoreksi), Ambeg parama artha (dapat memilih mana yg tepat), Prasaja (sederhana), Satya (setia/loyal), Gemi nastiti (membatasi p’gun sesuai kebutuhan), Belaka (berani bertanggung jawab),
Legawa (keiklasan menyerahkan kpd generasi brknya)
 
Prinsip Prinsip Kepemimpinan :
Mahir dalam soal’s nis & tis , Yakinkan tugas dimengerti, diawasi & dijalankan, Ketahui anak buah & jaga kesejahtraannya, Jaga agar anak buah tahu segala sesuatu (cukup info), Beri contoh, Tumbuhkan rasa tanggung jawab diantara anak buah, latih anak buah sbg sesuatu tim, Buatlah kept yg sehat & pada waktunya, Pekerjaan Komando anda sesuai dgn kesanggupannya, Bertanggung jwb atas apa yg dilakukan, Ketahuilah diri sendiri & cari perbaikannya
 
16 Sifat Kepemimpinan :
Jujur, Berpengetahuan, Berani, Mampu mengambil keputusan, Dapat dipercaya, Berinisiatif, Bijaksana, Tegas, Adil, Tauladan, Tahan Uji, Loyalitas, Tdk mementingkan diri sendiri, Antusias, Simpatik, Rendah Hati

 AUTENTIKASI

 PENHUMAS AKMIL

GUBERNUR AKMIL PIMPINAN UPACARA HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-111

AKMIL (20/5). Bertempat di Lapangan Pancasila Akademi Militer, Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman memimpin Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-111 tahun 2019, dan diikuti oleh para Pejabat Distribusi Akmil, Perwira, Bintara, Tamtama dan PNS serta Taruna dan Taruni Akademi Militer. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-111 tahun 2019 ini mengambil tema “Bangkit Untuk Bersatu”.
Dalam amanat Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bapak Rudiantara yang dibacakan Inspektur Upacara mengatakan, bahwa kita berada dalam situasi pasca-pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. Kita mengaspirasikan pilihan yang berbeda-beda dalam pemilu, namun semua pilihan pasti kita niatkan untuk kebaikan bangsa. Oleh sebab itu tak ada maslahatnya jika dipertajam dan justru mengoyak persatuan sosial kita. Alhamdulillah, sampai sekarang ini tahap-tahap pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif berlangsung dengan lancar. Kelancaran ini juga berkat pengorbanan banyak saudara-saudara kita yang menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara, bahkan berupa pengorbanan nyawa. Sungguh mulia perjuangan mereka untuk menjaga kelancaran dan kejujuran proses pemilu ini. Sambil mengirim doa bagi ketenangan jiwa para pahlawan demokrasi tersebut, alangkah eloknya jika kita wujudkan  ucapan  terima  kasih  atas pengorbanan mereka  dengan  bersama-sama  menunggu secara tertib ketetapan penghitungan suara resmi yang akan diumumkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh undang-undang, dalam waktu yang tidak lama lagi.
Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Bapak Rudiantara juga mengatakan, telah lebih satu abad kita menorehkan catatan penghormatan dan penghargaan atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Dalam kondisi kemajemukan bahasa, suku, agama, kebudayaan, ditingkah bentang geografis yang merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia, kita membuktikan bahwa mampu menjaga persatuan sampai detik ini. Oleh sebab itu, tak diragukan lagi bahwa kita pasti akan mampu segera kembali bersatu dari kerenggangan perbedaan pendapat, dari keterbelahan sosial, dengan memikirkan kepentingan yang lebih luas bagi anak cucu bangsa ini, yaitu persatuan Indonesia. Apalagi peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah. Hingga pada akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita.
Bangsa ini adalah bangsa yang besar. Yang telah mampu terus menghidupi semangat persatuannya selama berabad-abad. Kuncinya ada dalam dwilingga salin suara berikut ini: gotong-royong. Ketika diminta merumuskan dasar negara Indonesia dalam pidato di hadapan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno, menawarkan Pancasila yang berintikan lima asas. Namun Bapak Proklamator Republik Indonesia tersebut juga memberikan pandangan bahwa jika nilai-nilai Pancasila tersebut diperas ke dalam tiga sila, bahkan satu “sila” tunggal, maka yang menjadi intinya inti, core of the core, adalah gotong-royong.
Menurut Bung Karno: “Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan yang tulen, yaitu perkataan gotong royong. Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”
Selesai upacara di laksanakan penyerahan secara simbolis bingkisan lebaran 1440 H dari Gubernur Akmil kepada perwakilan Organik Pa, Ba, Ta dan Pns Akmil. Selanjutnya secara serentak bingkisan lebaran bisa di ambil oleh seluruh organik Akmil di Puskop Kartika Tidar Akmil.
AUTENTIKASI
PENHUMAS AKMIL

KUNJUNGAN PERWIRA DAN TARUNA KOREA

Akademi Militer mendapat  kunjungan kehormatan Perwira KMA Korea  Kapten Choi Do-Hoon dan dua orang Cadet dari KMA Korea  Cadet Choi Youn-Jo, Cadet Choi Gyu-Tae  ke Akademi Militer Magelang. Diterima di Ruang Sudirman Main Hall Akmil diterima oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Kolonel Inf Agung Pambudi mewakili Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Turut hadir Para Perwira Akmil,  Senin (13/05/19)
Dalam kunjungan ini Kolonel Inf Agung Pambudi menyatakan, sungguh merupakan suatu kehormatan bagi Akademi Militer mendapat kesempatan untuk menerima kunjungan Perwira dan dan Taruna KMA Korea. Kita semua tahu, bahwa hubungan dan kerja sama antara Pemerintah Korea dengan Indonesia telah mengalami banyak kemajuan di segala bidang dan program pertukaran Taruna setiap tahun ini merupakan bukti  dari  usaha  keras   kedua pemerintahan untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan baik antara KMA Korea dengan Akademi Militer.
Kolonel Inf Agung Pambudi juga menginformasikan bahwa, “Akademi Militer adalah lembaga pendidikan Perwira tingkat Akademi di lingkungan TNI Angkatan Darat yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Staf Angkatan Darat”.
“Akademi Militer melatih dan mendidik 1.041 Taruna Pria dan Wanita yang terdiri dari 294 Taruna tahun pertama, 233 Taruna tahun kedua, 251 Taruna tahun ketiga dan 263 taruna tahun keempat. Mereka semua adalah pria dan wanita yang dipilih, direkrut dari berbagai kelompok etnis dan daerah dari seluruh Indonesia, dan mereka juga berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Ujar Kolonel Inf Agung Pambudi.                Di akhir sambutan Kolonel Inf Agung Pambudi menyampaikan “Semoga kunjungan Perwira dan Taruna KMA Korea  ke Akademi Militer Magelang disini menyenangkan dan mendapatkan manfaat positif dari kegiatan ini.”                 Pada kesempatan ini Dirbindik Akmil Kolonel Inf Agung Pambudi memberikan cindera mata kepada Kapten Choi Do-Hoon berupa plakat Akademi Militer dan Batik  untuk yang dari KMA Korea Kapten Choi Do-Hoon memberikan kenang kenangan berupa Plakat KMA Korea.                Selesai dari Main Hall dilanjutkan kunjungan ke Museum Taruna Abdul Djalil, Museum SBY dan Keliling Kesatrian Akmil.
 
AUTENTIKASI
PENHUMAS AKMIL

TARUNA TK.III AKMIL KECABANGAN KAVALERI MENERIMA MATERI KECABANGAN DI YON KAV. AMBARAWA

Akademi Militer Taruna tingkat III sejumlah 22 Taruna kecabangan Kaveleri menerima materi Taktik (Tik) kavaleri dalam pengamanan di Batalyon Kavaleri (Yonkav) 2/ Turangga Ceta Ambarawa. Kedatangan Para Taruna  diterima langsung oleh Komandan Batalyon Kaveleri 2 Turangga Ceta Letkol kav Hery Bakti S.H., yang di laksanakan selama 2 hari Kamis dan Jum’at tanggal 9 & 10 Mei 2019. Kamis (9/05/2019)
Dalam kegiatan ini penyampai materi  adalah Kapten Kav Widi dan Lettu Kav Hendro dari Pusdik Kavaleri.  Dalam penyampaian materi taktik pengamanan kaveleri meliputi kedaraan tempur yang akan digunakan meliputi pengecekan materiil kendaraan, cek poin. Pengamanan .ketentuan ketentuan perpindahan, komunikasi. disiplin perpindahan serta kecepatan perpindahan.
Pada materi perpindahan kendaraan tempur hal penting yang harus diperhatikan adalah keamanan perpindahan dan jalannya pengamanan. Di sela-sela kegiatan pelajaran,  Direktur Pembinaan Pendidikan (Dirbindik) Akmil, Kol Inf Agung Pambudi mengunjungi para Taruna dan  berpesan kepada para Taruna agar mempelajari dan memahami materi kecabangan kavaleri bagi Taruna kecabangan kaveleri yang akan sangat bermanfaat dalam pelaksanaan tugas di kesatuan nantinya.
Dalam sambutannya, Komandan Batalyon Kaveleri 2 Turangga Ceta Letkol kav Hery Bakti S.H., menjelaskan bahwa Batalyon Kavaleri 2/Turangga Ceta (atau Yonkav 2/TC) Kodam IV/Diponegoro adalah sebuah pasukan Kavaleri Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk pada 4 April 1950 dan bermarkas di AmbarawaJawa Tengah.
Tugas Pokok Yonkav 2/Tank melaksanakan pertempuran di darat dengan menggunakan alat peralatan gerak cepat dan atau berlapis baja. Disampaikan pula oleh Letkol kav Hery Bakti S.H., bahwa disamping tugas pokok tersebut Yonkav 2/Tank juga mendukung tugas pokok Kodam IV/Diponegoro.
Sejak kelahirannya pada tanggal 4 April 1950 sampai saat ini satuan ini sudah melaksanakan pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara. Disampaikan pula oleh Letkol kav Hery Bakti S.H.,  bahwa penjelasan tentang sejarah singkat kesatuan untuk tersebut memberikan gambaran sekilas tentang pengabdian selama ini sehingga dapat dimanfaatkan sebagai upaya menumbuhkembanggakan, kecintaan dan kesetiaan yang mendalam bagi Prajurit Yonkav 2/Tank terhadap kesatuannya. Sejarah kelahiran Yonkav 2/Tank yang sekarang berlokasi di Ambarawa Jawa Tengah, tidak terlepas dari sejarah Bangsa Indonesia khususnya sejarah perjuangan TNI  AD melawan penjajah di Jawa Tengah dan Di Yogyakarta serta merupakan bagian dari sejarah kelahiran Korps Kavaleri TNI AD dan sejarah kelahiran Kodam IV/Diponegoro. Selain untuk menumbuhkan rasa kecintaan  bagi Prajurit Yonkav 2/Tank, penjelasan tersebut  juga bertujuan untuk memberikan gambaran kepada Taruna Tingkat III Akmil kecabangan Kavaleri sebagai kader pimpinan TNI AD masa depan kecabangan Kavaleri.
 
AUTENTIKASI
PENHUMAS AKMIL

SANG PATRIOT, KISAH SEORANG PAHLAWAN REVOLUSI

Akademi Militer. Gubernur  Akmil Mayjen TNI Dudung  Abdurachman melaksanakan bedah buku bersama Taruna Akmil 200 orang “Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi”  di Gedung Leo Kei lola Akademi Militer, bersama Nara sumber Bapak Abie Besman (Penulis dan Editor , Kisah Seorang Pahlawan Revolusi) dan ibu Imelda Bachtiar .Sabtu (27/04/19)
Gubernur  Akmil pada kesempatan itu menyampaikan harapan kedepan bagi Taruna sebagai gambaran bagaimana jiwa patriot seorang perwira sehingga para Taruna Taruna nanti kedepan sebagai  kader pemimpin, akan mencontoh bagaimana Patriotisme.
Dua bulan sudah pasca-peluncuran Buku Sang Patriot, Biografi Resmi Pierre Andries Tendean di Perpustakaan Nasional, 25 Februari 2019. Perjuangan tujuh orang anak muda nonsejarawan; Abie Besman, Iffany Saktya, Irma Rachmania Dewi, Laricya Umboh, Neysa Ramadhani, Noviriny Drivina dan Ziey Sullastri akhirnya menghasilkan sebuah buku yang menjadi buku pertama dalam rentang waktu 54 tahun sejak tragedi 1965 yang mengangkat sosok Pierre Tendean dari sudut pandang keluarga dan rekan-rekan dekatnya. Berbagai tempat, dokumen dan kesaksian dari siapa pun yang mengetahui langsung sosok Pierre Tendean menjadi menu sehari-hari bagi mereka selama 2 tahun terakhir. Salah satu yang kerap menjadi pertanyaan adalah sosok pribadi Pierre Andries Tendean. Nama Pierre, meski kerap dijadikan sebagai nama jalan, bangunan atau monumen tak membuat sang pemilik nama dikenal terang benderang. Banyak informasi mengenai Pierre yang berkembang liar tanpa pernah diketahui kebenarannya.
Peluncuran buku ini juga mendapatkan apresiasi dari Keluarga Besar Tendean, yang menyambut ketulusan dan kerja keras anak-anak muda ini dengan tangan terbuka. “Sudah saatnya Pierre dikenal publik sebagai Pierre yang sesungguhnya” kurang lebih seperti itu makna yang tersiratkan dan tersuratkan oleh Mitzi Farre dan Rooswidiati Tendean, sebagai kakak dan adik Pierre Tendean kepada penulis. Sebuah perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga bahkan air mata.
Peristiwa 30 September 1965 menyisakan halaman gelap dalam lembaran buku sejarah Republik Indonesia. Meski sudah terjadi 54 tahun yang lalu, peristiwa ini masih membekas dan masih menghantui sebagian besar masyarakat Indonesia, namun tetap saja, ada rasa haus dan rasa penasaran untuk mengetahui fakta dan konteks rangkaian peristiwa yang terjadi saat itu. Keran informasi yang mengalir deras sejak reformasi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas informasi yang muncul. Sejarah menjadi rawan dengan bias informasi, sejarah bukan lagi milik sang pemenang, namun menjadi milik sang pencerita.
Bersamaan dengan peluncuran edisi cetakan kedua, 27 April 2019, sebuah diskusi dan bedah buku juga diselenggarakan di Akademi Militer, Magelang. Selain menghadirkan editor sekaligus penulis buku, Abie Besman, Gubernur Akademi Militer, Mayjen Dudung Abdurachman juga menjadi salah satu pembicara dalam diskusi yang melibatkan Civitas Akademika Akmil dan juga para taruna.

AUTENTIKASI

PENHUMAS AKMIL